Kisah Inspiratif : JENUH

pantai

Seorang pria setengah baya mendatangi seorang guru ngaji,
“Ustadz, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati.”
Sang Ustadz pun tersenyum, “Oh, kamu sakit.”
“Tidak Ustadz, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Ustadz meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.”
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan.
Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan.
Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo.
Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.
Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya.
Dalam hal berumah-tangga,bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan.
Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.
“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.” demikian ujar sang Ustadz.
“Tidak Ustadz, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup.” pria itu menolak tawaran sang Ustadz.
“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?”
“Ya, memang saya sudah bosan hidup.”
“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.”
Giliran dia menjadi bingung. Setiap Ustadz yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Tapi Ustadzz yang satu ini aneh. malah Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh Ustadz edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran masakan Jepang.
Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget! Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu.” Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya.
Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali, “Mas, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, mas.”
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang.
Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?”
Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan.
Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Mas, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.”
Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu stres karena perilaku kami semua.”
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?
” Ya Allah, apakah maut akan datang kepadaku. Tundalah kematian itu ya Allah. Aku takut sekali jika aku harus meninggalkan dunia ini “.
Ia pun buru-buru mendatangi sang Ustadz yang telah memberi racun kepadanya.
Sesampainya dirumah Ustadz tersebut, pria itu langsung mengatakan bahwa ia akan membatalkan kematiannya. Karena ia takut sekali jika ia harus kembali kehilangan semua hal yang telah membuat dia menjadi hidup kembali.
Dengan datangnya pria itu, rupanya sang Ustadz langsung mengetahui apa yang telah terjadi, sang Ustadz pun berkata
“Buang saja botol itu. Isinya air biasa kok.. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kepasrahan, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan.
Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan.
Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan. percayalah .. Allah bersama kita.”
Lalu Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Ustadz, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya.

Ah, indahnya dunia ini ……

Dikutip dari : islamitubaik.blogspot.com/2012/11/cerita-inspirasi-islam-bosan-hidup

Iklan

Kultum : HIDUPLAH SESUKAMU

makam

Jibril telah datang kepadaku dan berkata : Hai Muhammad hiduplah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau suatu saat akan mati, cintailah apa yang engkau sukai tapi engkau suatu saat pasti berpisah juga dan lakukanlah apa yang engkau inginkan sesungguhnya semua itu ada balasannya. (HR.Baihaqi dari Jabir)

Hadits diatas, sungguh sangat dalam maknanya dalam frame kebebasan manusia dalam Islam. Hiduplah sesukamu, namun ingat suatu saat kita akan mati.

Manusia diberikan kebebasan untuk menempuh kehidupannya. Manusia dipersilahkan hidup didunia dengan caranya masing-masing. Namun ada batasan yang harus dibangun dan disadari, bahwa , kehidupan didunia bukanlah kehidupan abadi. Banyak orang lupa, banyak orang terlena, banyak orang tertipu dengan kehidupan dunia karena sering melupakan kematian.

Sebagai ummat Islam, kita selalu diingatkan tentang kematian. Dunia ini adalah sementara, dunia ini seperti tempat persinggahan seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan, kehidupan dunia ini sangat amat sebentar, sering-seringlah kita mengingat mati, begitu inti beberapa hadist nabi tentang dunia.

Kembali pada hadist tadi, ketika kita ingat akan mati yang dapat datang kapanpun Allah berkehendak, maka, apakah kita masih ingin hidup sesuka hati kita, sebebas-bebasnya tanpa menghiraukan syariat dari Allah SWT.? Masihkan kita begitu sombong untuk hidup seenaknya, atas nama kebebasan, padahal mungkin besok, satu jam lagi, satu menit lagi, bahkan satu detik lagi kita mungkin akan mati?

Islam sebagai agama yang fitrah pun menghargai kebebasan untuk mencintai sesuatu yang ingin kita cintai. Cinta adalah karunia dari Allah kepada manusia. Ia merupakan fitrah manusia yang indah. Manusia boleh mencintai anak, mencintai istri, mencintai harta, suka dengan kendaraan yang mewah, rumah yang bagus, dan lain sebagainya. Namun sekali lagi semua ada batasnya. Cinta dapat mendorong orang melakukan hal-hal yang kadang irrasional, bahkan diluar kemampuannya. Oleh karena itulah , cinta dalam islam diberikan frame. Hadis tadi begitu indah menberikan batasan. Anda boleh cinta dengan harta anda yang begitu berlimpah, namun setinggi-tingginya cinta anda, harta itupun akan berpisah dengan anda. Hanya selembar kain yang akan menemani anda sampai kedalam kubur. Anda boleh cinta kepada anak Istri anda, namun mereka akan meninggalkan anda, atau anda yang akan meninggalkan mereka. Anak, Istri, rumah, harta, jabatan, semua akan meninggalkan anda atau akan anda tinggalkan.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman teramat sangat cintanya kepada Allah “.

Cinta pada Allah, adalah cinta yang sebenarnya tanpa batas. Seorang yang dicintai dan mencintai Allah, tidak akan merasa meninggalkan atau ditinggalkan. Namun cinta kepada Allah menuntut konsekuensi untuk selalu meletakkan kepentingan dari Allah diatas segalanya. mengalahkan kepentingan dunia, mengalahkan harta, mengalahkan anak dan istri, bahkan mengalahkan diri kita sendiri. Ketika Allah SWT menuntut kita atau ketika sesuatu yang kita cintai bertentangan dengan syariat dari Allah, maka orang beriman akan mendahulukan kepentingan dari Allah, karena cintanya kepada Allah SWT.

Manusia juga diberikan kebebasan untuk melakukan apapun yang dia kehendaki. Namun, tentu kebebasan untuk melakukan suatu perbuatan itupun mempunyai frame yang jelas.

“Lakukan sesuatu yang engkau ingin lakukan, namun ingatlah, semua perbuatanmu itu ada balasannya”.

Hidup ini sungguh sangat bernilai bagi kita. Semua yang kita kerjakan, sedikit apapun, seremeh apapun, sekecil apapun, semua ada balasannya. Allah berfirman dalam surah Al-Zalzalah ayat 7-8.

“Barang siapa yang berbuat kebaikan sekecil Zarrah pun, maka Ia akan menuai balasan yang baik, dan barang siapa yang berbuat kejahatan sekecil zarrah pun, maka ia akan menuai balasan yang setimpal”.

Bagi kita, bahkan senyum menjadi satu amal baik sebagaimana menyingkirkan aral di jalanpun bernilai pahala. Begitupun perbuatan buruk. Seorang muslim yang bersih hatinya, akan melihat satu perbuatan buruk sekecil apapun bagaikan melihat gunung yang akan menimpanya.

Kebebasan dalam berbuat, bukanlah kebebasan berbuat seenaknya. Kebebasan berbuat disertai tanggungjawab dan beban moral bahwa sesungguhnya perbuatan kita pastilah ada balasannya.

Jika semua perbuatan kita, sekecil apapun, kelihatan atau tidak kelihatan, baik atau buruk, selalu dibalas oleh Allah SWT , apakah kita masih ingin berbuat semaunya, tanpa menghiraukan mudharat dan akibatnya?

Akhirnya, ada yang perlu kita renungkan dari hal-hal diatas. Semua kita pasti akan mati, sehingga mengapa kita ingin hidup semau kita, seakan-akan dunia adalah tujuan akhir kita. Semua yang kita cintai dan mencintai kitapun akan kita tinggalkan dan meninggalkan kita, sehingga mengapa tidak kita memberi cinta tertinggi kita kepada Allah SWT. Semua amal perbuatan kita selalu akan ada balasannya, sehingga mengapa tidak kita berbuat sebaik-baiknya agar kehidupan kita lebih bermakna, dan timbangan amal baik kita selalu bertambah.

Masih adakah yang ingin hidup bebas seenaknya…? seakanakan hidupnya tidak dipertanggungjawabkan, amalnya tidak dihitung, umurnya bisa diatur sesukanya ?

 

Wallahu a’lam bishshawab

Serial Khutbah Jum’at : TAQWA ADALAH MODAL YANG HAKIKI

bibit padi

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ السَّلاَمِ، الَّذِيْ مَنَّ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِسْلاَمِ، وَإِلَيْهِ يَعُوْدُ جَمِيْعُ صِفَاتِ السَّلاَمِ، اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ وَتَرَحَّمْ وَتَحَنَّنْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ الَّذِى اصْطَفَى رَبُّهُ عَلَى سَائِرِ الْعَرَبِ وَالْعَجَمِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ هُمْ مَصَابِيْحُ اللَّيَالِيْ وَاْلاَظْلاَمِ، وَعَلَى جَمِيْعِ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامِ.  أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا أَمَّا بَعْدُ؛

Para hadirin yang berbahagia.

Pada hakekatnya tak ada penyejuk yang benar-benar menyegarkan, dan tak ada obat yang paling mujarab selain taqwa kepada Allah. Hanya taqwa kepada-Nya-lah satu-satunya jalan keluar dari berbagai problem kehidupan, yang mendatangkan keberkahan hidup, serta menyelamatkan dari adzab-Nya di dunia maupun di akhirat nanti, karena taqwa jualah seseorang akan mewarisi Surga Allah Swt.

Para hadirin yang berbahagia

Pengertian taqwa itu sendiri mengandung makna yang bervariasi di kalangan ulama. Namun semuanya bermuara kepada satu pengertian yaitu seorang hamba meminta perlindungan kepada Allah Swt. dari adzab-Nya, hal ini dapat terwujud dengan melaksanakan apa yang di perintahkan-Nya dan menjauhi apa yang di larang-Nya.

Bila kata taqwa disandarkan kepada Allah maka artinya takutlah kepada kemurkaan-Nya, dan ini merupakan perkara yang besar yang mesti ditakuti oleh setiap hamba. Imam Ahmad bin Hambal Radhiallaahu anhu berkata, “Taqwa adalah meninggalkan apa-apa yang dimaui oleh hawa nafsumu, karena engkau takut (kepada Dzat yang engkau takuti)”. Lebih lanjut ia mengatakan, “Takut kepada Allah, ridha dengan ketentuan-Nya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari kiamat nanti.”

Para hadirin yang berbahagia

Pada hakekatnya Allah Swt, mewasiatkan taqwa ini, bukan hanya pada umat Nabi Muhammad, melainkan juga kepada umat-umat terdahulu, dan dari sini kita bisa melihat bahwa taqwa merupakan satu-satunya yang diinginkan Allah.
Allah Swt, menghimpun seluruh nasihat dan dalil-dalil, petunjuk-petunjuk, peringatan-peringatan, didikan serta ajaran dalam satu wasiat yaitu Taqwa.

Hadirin yang berbahagia.

Pernah suatu ketika Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berwasiat mengenai taqwa, dan kisah ini diriwayatkan oleh Irbadh bin Sariyah bahwa Rasulullah Saw. shalat subuh bersama kami, kemudian memberi nasihat dengan nasihat yang baik yang dapat meneteskan air mata serta menggetarkan hati yang mendengarnya. Lalu berkatalah salah seorang sahabat, “Ya Rasulullah, sepertinya ini nasihat terakhir oleh karena itu nasihatilah kami”.Lalu Nabi bersabda :

أَوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا، ….

Artinya: “Aku wasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa kepada Allah, mendengar dan mentaati, sekalipun kepada budak keturunan Habsyi. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tarmidzi, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Al-Baghawi, syarah dan As Sunnah, dan Tarmidzi berkata, hadits ini hasan shahih, dan shahih menurut Syaikh Al-Albani).

Hadirin yang berbahagia.

Tentang sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam: “Aku wasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa kepada Allah, mendengar dan mentaati”, tersebut di atas, Ibnu Rajab berkata, bahwa kedua kata itu yaitu mendengar dan mentaati, mempersatukan kebahagiaan dunia dan akhirat. Adapun taqwa merupakan penjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Di samping itu taqwa juga merupakan sebaik-baiknya pakaian dan bekal orang mu’min, hal ini seperti yang digambarkan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala dalam firman-Nya surat Al-A’raaf ayat 26 dan Al-Baqarah ayat 197.

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَىَ ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang terbaik. (Al-A’raaf: 26).

Allah Ta’ala menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya pakaian penutup aurat (al-libas) dan pakaian indah (ar-risy), maka al-libas merupakan kebutuhan yang harus, sedangkan ar-risy sebagai tambahan dan penyempurna, artinya Allah menunjuki kepada manusia bahwa sebaik-baik pakaian yaitu pakaian yang bisa menutupi aurat yang lahir maupun batin, dan sekaligus memperindahnya, yaitu pakaian at-taqwa.
Qasim bin Malik meriwayatkan dari ‘Auf dari Ma’bad Al-Juhani berkata, maksud pakaian taqwa adalah al-hayaa’ (malu). Sedangkan Ibnu Abbas berpendapat bahwa pakaian taqwa adalah amal shalih, wajah yang simpatik, dan bisa juga bermakna segala sesuatu yang Allah ajarkan dan tunjukkan.
Adapun taqwa sebagai sebaik-baiknya bekal sebagaimana tertuang dalam firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 197:

…َتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ.

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepadaKu, hai orang-orang yang berakal”

Para hadirin yang berbahagia

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat tersebut, dengan menyatakan bahwa kalimat “sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa”, menunjukkan bahwa tatkala Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk mengambil bekal dunia, maka Allah menunjuki kepadanya tentang bekal menuju akhirat (yaitu taqwa).

Seandainya kita mampu merealisasikan, kedua ayat di atas bukanlah suatu hal yang mustahil, dan itu merupakan modal utama bagi kita untuk bersua kepada Sang Pencipta.

Banyak sekali faktor-faktor penunjang agar kita bisa merasakan ketaqwaan tersebut, di antaranya :

  1. Mahabbatullah
    Ibnu Qayyim rahimahullah berkata :

“Mahabbah itu ibarat pohon (kecintaan) dalam hati, akarnya adalah merendahkan diri di hadapan Dzat yang dicintainya, batangnya adalah ma’rifah kepada-Nya, rantingnya adalah rasa takut kepada (siksa)Nya, daunnya adalah rasa malu terhadap-Nya, buah yang dihasilkan adalah taat kepada-Nya, bahan penyiramnya adalah dzikir kepada-Nya, kapan saja, jika amalan-amalan tersebut berkurang maka berkurang pulalah mahabbahnya kepada Allah”. (Raudlatul Muhibin, 409, Darush Shofa).

  1. Merasakan adanya pengawasan Allah.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

…وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Dan Allah melihat apa-apa yang kamu kerjakan”. (Al-Hadid: 4).

Makna ayat ini, bahwa Allah mengawasi dan menyaksikan perbuatanmu kapan saja dan di mana saja kamu berada. Di darat ataupun di laut, pada waktu malam maupun siang. Di rumah kediamanmu maupun di ruang terbuka. Segala sesuatu berada dalam pengetahuan-Nya, Dia dengarkan perkataanmu, melihat tempat tinggalmu, di mana saja adanya dan Dia mengetahui apa yang kamu sembunyikan serta yang kamu fikirkan”.

  1. Menjauhi penyakit hati

Di dunia ini tidak ada yang namanya kejahatan dan bencana besar, kecuali penyebabnya adalah perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat. Adapun penyebab dosa itu teramat banyak sekali, di antaranya penyakit hati, penyakit yang cukup kronis, yang menimpa banyak manusia, seperti dengki, yang tidak senang kebahagiaan menghinggap kepada orang lain, atau ghibah yang selalu membicarakan aib orang lain, dan satu penyakit yang tidak akan diampuni oleh Allah yaitu Syirik. Oleh karena itu mari kita berlindung kepada Allah Swt. dari penyakit itu semua.

  1. Menundukkan hawa nafsu

Apabila kita mampu menahan dan menundukkan hawa nafsu, maka kita akan mendapatkan kebahagiaan dan tanda adanya nilai takwa dalam pribadi kita serta di akhirat mendapat balasan Surga. Seperti firman Allah yang artinya :

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى 40 فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى 41

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada Tuhannya dan menahan diri dari keinginan nafsunya, maka sesungguhnya Surgalah tempat tinggalnya.” (An-Nazi’at: 40-41)

  1. Mewaspadai tipu daya syaithan

Seperti kita ketahui bersama bahwasanya syaithan menghalangi orang-orang mu’min dengan beberapa penghalang, yang pertama adalah kufur, jikalau seseorang selamat dari kekufuran, maka syaithan menggunakan caranya yang kedua yaitu berupa bid’ah, jika selamat pula maka ia menggunakan cara yang ketiga yaitu dengan dosa-dosa besar, jika masih tak berhasil dengan cara ini ia menggoda dengan perbuatan mubah, sehingga manusia menyibukkan dirinya dalam perkara ini, jika tidak mampu juga maka syaithan akan menyerahkan bala tentaranya untuk menimbulkan berbagai macam gangguan dan cobaan silih berganti.

Maka tidak diragukan lagi, bahwa mengetahui rintangan-rintangan yang dibuat syaithan dan mengetahui tempat-tempat masuknya ke hati anak Adam dari bujuk rayu syaithan merupakan poin tersendiri bagi kita.

Para hadirin yang berbahagia, semoga kita termasuk golongan Muhtadin, yaitu orang-orang yang selalu diberi-Nya Petunjuk, termasuk golongan Muttaqin yaitu mereka yang bertaqwa kepada-Nya, yang selalu istiqomah pada jalan-Nya, yang pada akhirnya kebahagiaan dunia dan akhirat dapat kita peroleh, aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.  أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِيِمْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ فَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَحَذَّرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، اَلْوَاحِدُ الْقَهَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى ِفْي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ … والحمد لله رب العالمين … اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهُمَّ اَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ  وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.  رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

Khutbah Shalat Jum’at : Tiga Amalan Baik

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Jamaah Jum’ah Rahimakumullah !

Bertaqwalah kepada Allah, dengan sebenar-benar taqwa, Karena hanya dengan taqwa kepada-Nya yang dapat menyelamatkan kita di kehidupan dunia ini hingga di akherat nanti. Yaitu dengan jalan melaksanakan perintah serta meninggalkan larangan-Nya. Karena tidak ada bekal terbaik di hari kiamat nanti, yang menjadikan diri kita mulia di sisiNya melainkan dengan taqwa. Karena tidak ada yang mampu menjadi tameng kita dari adzab dan api neraka-Nya melainkan adalah taqwa yang kita miliki.

Bumi yang kita tempati adalah planet yang selalu berputar, ada siang dan ada malam. Roda kehidupan dunia juga tidak pernah berhenti. Kadang naik kadang turun. Ada suka ada duka. Ada senyum ada tangis. Kadangkala dipuji tapi pada suatu saat kita dicaci. Jangan harapkan ada keabadian perjalanan hidup.

Oleh sebab itu, agar tidak terombang-ambing dan tetap tegar dalam menghadapi segala kemungkinan tantangan hidup kita harus memiliki pegangan dan amalan dalam hidup. Tiga amalan baik tersebut adalah Istiqomah, Istikharah dan Istighfar.

Amalan Pertama adalah Istiqomah, yaitu kokoh dalam aqidah dan tekun dalam beribadah.

Begitu pentingnya istiqomah ini sampai Nabi Muhammad Saw. berpesan:

عَنْ أَبِيْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قُلْ لِيْ فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُهُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ. رواه مسلم.

“Dari Abi Sufyan bin Abdullah Radhiallaahu anhu berkata: Aku telah berkata, “Wahai asulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam sehingga aku tidak perlu bertanya kepada orang lain selain engkau. Nabi menjawab, ‘Katakanlah aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah’.”

(HR. Muslim).

Orang yang istiqamah selalu kokoh dalam aqidah dan tidak goyang keimanan bersama dalam tantangan hidup.
Orang seperti itulah yang dipuji Allah Subhannahu wa Ta’ala dalam Al-Qur-an surat Fushshilat ayat 30 :

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَلاَّ تَخَافُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatahkan): “Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah dengan syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Qs. Fushshilat: 30)

Ada beberapa kiat untuk menjadi istiqomah yaitu :

Memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar.

Kiat pertama ini menuntunkan seseorang agar bisa beragama dengan baik yaitu mengikuti jalan hidup para sahabat yang merupakan generasi terbaik dari umat ini. Dengan menempuh jalan tersebut, ia akan sibuk belajar agama untuk memperbaiki aqidahnya serta mendalami tauhid. Oleh karena itu, jalan yang ia tempuh adalah jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam beragama yang merupakan golongan yang selamat yang akan senantiasa mendapatkan pertolongan Allah.

Berikutnya mengkaji Al Qur’an dengan menghayati dan merenungkannya.

Allah menceritakan bahwa Al Qur’an dapat meneguhkan hati orang-orang beriman dan Al Qur’an adalah petunjuk kepada jalan yang lurus. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Rabbmu dengan benar,  untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman , dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.” (QS. An Nahl: 102)

Kiat berikutnya adalah Iltizam (konsekuen) dalam menjalankan syari’at Allah

Maksudnya adalah seseorang dituntunkan untuk tekun dalam menjalankan syari’at atau dalam beramal dan tidak putus di tengah jalan. Karena ketekunan dalam beramal lebih dicintai oleh Allah daripada amalan yang sesekali saja dilakukan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari ‘Aisyah -radhiyallahu ‘anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ‘Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk  merutinkannya. [15]

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah bahwa amalan yang sedikit namun konsekuen dilakukan, itu lebih baik dari amalan yang banyak namun cuma sesekali saja dilakukan.  Ingatlah bahwa amalan sedikit yang rutin dilakukan akan melanggengkan amalan ketaatan, dzikir, pendekatan diri pada Allah, niat dan keikhlasan dalam beramal, juga akan membuat amalan tersebut diterima oleh Allah Swt. Amalan sedikit namun konsekuen dilakukan akan memberikan ganjaran yang besar  dan berlipat dibandingkan dengan amalan yang sedikit namun sesekali saja dilakukan.”[16]

 

Amalan Kedua Istikharah, selalu mohon petunjuk Allah dalam setiap langkah dan penuh pertimbangan dalam setiap keputusan.
Setiap orang mempunyai kebebasan untuk berbicara dan melakukan suatu perbuatan. Akan tetapi menurut Islam, tidak ada kebebasan yang tanpa batas, dan batas-batas tersebut adalah aturan-aturan agama. Maka seorang muslim yang benar, selalu berfikir berkali-kali sebelum melakukan tindakan atau mengucapkan sebuah ucapan serta ia selalu mohon petunjuk kepada Allah.

Nabi Shalallaahu alaihi wasalam pernah bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ. رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Orang bijak berkata “berfikirlah hari ini dan bicaralah esok hari”

Kalau ucapan itu tidak baik apalagi sampai menyakitkan orang lain maka tahanlah, jangan diucapkan, sekalipun menahan ucapan tersebut terasa sakit. Tapi ucapan itu benar dan baik maka katakanlah jangan ditahan sebab lidah kita menjadi lemas untuk bisa meneriakkan kebenaran dan keadilan serta menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Mengenai kebebasan ini, malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam untuk memberikan rambu-rambu kehidupan, beliau bersabda :

أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدًا عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقٌ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ. رواه البيهقي عن جابر

Jibril telah datang kepadaku dan berkata: Hai Muhammad hiduplah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau suatu saat akan mati, cintailah apa yang engkau sukai tapi engkau suatu saat pasti berpisah juga dan lakukanlah apa yang engkau inginkan sesungguhnya semua itu ada balasannya. (HR.Baihaqi dari Jabir).
Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ini semakin penting untuk diresapi ketika banyak orang berbicara tanpa logika dan data yang benar dan bertindak sekehendakya tanpa mengindahkan etika agama.Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam bersabda :

مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ  وَلاَ نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ  وَلاَ عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ.

Tidak akan rugi orang yang beristikharah, tidak akan kecewa orang yang bermusyawarah dan tidak akan miskin orang yang hidupnya hemat. (HR. Thabrani dari Anas)

Istikharah dalam arti Menghadirkan Allah Swt dalam segala sesuatu yang hendak kita lakukan dengan selalu mengingat dan memperhatikan aturan yang diberikan agar tidak salah dan menyimpang dari jalan yang benar.

 

Amalan Ketiga adalah Istighfar, yaitu selalu instropeksi diri dan mohon ampunan kepada Allah Rabbul Izati.

 

Setiap orang pernah melakukan kesalahan baik sebagai individu maupun kesalahan sebagai sebuah bangsa. Setiap kesalahan dan dosa itu sebenarnya penyakit yang merusak kehidupan kita. Oleh karena ia harus diobati.

Tidak sedikit persoalan besar yang kita hadapi diakibatkan kesalahan kita sendiri. Saatnya kita instropeksi masa lalu, memohon ampun kepada Allah, melakukan koreksi untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah dengan penuh keridloan Allah.

Adakalanya kehidupan kita mengalami kesulitan. Kesulitan itu disebabkan karena kesalahan masa lalu yang menumpuk yang belum bertaubat darinya. Jika itu penyebabnya, maka obat satu-satunya adalah beristighfar dan bertobat kepada Allah Swt.

Allah berfirman yang mengisahkan seruan Nabi Hud Alaihissalam, kepada kaumnya :

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلاَ تَتَوَلَّوْاْ مُجْرِمِينَ

“Dan (Hud) berkata, hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS. Hud:52).

Para Jamaah yang dimuliakan Allah

Tak ada kehidupan yang sepi dari tantangan dan godaan. Agar kita tetap tegar dan selamat dalam berbagai gelombang kehidupan, tidak bisa tidak kita harus memiliki dan melakukan tiga hal di atas yaitu Istiqomah, Istikharah dan Istighfar.
Mudah-mudahan Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menatap masa depan dengan keimanan dan rahmat-Nya yang melimpah. Amin.

بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ  بِالقُرآن العَظـِيْمِ ، ونفعنى وايّاكم بالآيات والذكرالحكيم، وتقبّل منّى ومنكم تلاوته إنّه  هوالسميع العليم ، وقل رّبّ اغْفرْ وارْحَمْ  وأنتَ خيرُ الرّاِحِمين

Khutbah Kedua

الحَمْدُِللهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرْ ، أَشْهَدُ أَنْ لآ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَـيِّدُ اْلخَلاَئِقَ وَاْلبَشَرْ، َاللـَـّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ ألَهِ ِ وَأَصْحَــابِهِ وَسَلِّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّــابَعْـدُ : فَيَـاعِبَادَاللهِ إِتَّقُوْاالله ِفى السِّرِّ وَاْلعَلَنْ ، وَافْعَلُوْا اْلخَيْرَاتْ وَاجْتَنِبُوْا عَنِ السَّيِّئَاتْ، وَقَـالَ عَزَّ مِنْ قَائِلْ : إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَاتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يَااَيُّهَااَّلذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ، اَللَّهُمَّا صَلِّ وَ سَلّمِ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ ، وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ :

اللَّهُمَّا اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلُمؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ  وَقَاضِىَ اْلحَاجَاتِ، اَللَّهُمَّا أَعِزِّى اْلإِسْلاَمِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ اْلكُفْرَةِ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَا ءَالدِّيْنَ ، إِنَّكَ عَلىَ كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرْ ، رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنِ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا،

 رَبَّنَا أَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةِ وَفِى اْلأَخِرَةِ حَسَنَةٍ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ، وَاْلحَمْدُِللهِ رَبِّ اْلعَالمَيِنْ َ.

 عِبَادَالله، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى اْلقُرْبىَ  وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ يعَِظُكُمْ لَعَلكَمُْ تَذَكَّرُوْنَ،  أَذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمِ، وَلَذِكْرُالله أَكَـْــــبُر

TERBAIK ADALAH PILIHAN-NYA

awan-jernih-copySebuah kisah ilustrasi, Tentang seorang raja dengan seorang menteri.

Menterinya ini senantiasa berkata: “Al-khayr khīratullāh”, yang terbaik adalah pilihan Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Setiap ada orang yang terkena musibah maka diapun mendatangi dan menasihati dengan mengatakan : “Yang terbaik adalah pilihan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

Suatu saat sang raja terkena musibah, jarinya terpotong (terputus). Maka datanglah sang menteri dengan penuh semangat mengatakan : “Wahai Sang Raja, yang terbaik adalah pilihan Allāh, jarimu yang terputus itu adalah yang terbaik.” Maka sang raja pun tersinggung dan marah, dia mengatakan : “Jari saya putus ini yang terbaik? Penjarakan orang ini.” Akhirnya sang menteri pun dipenjarakan.

Tatkala sang menteri dipenjara dengan mudah dia berkata, “Yang terbaik adalah pilihan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.” Ternyata benar.

Suatu saat sang raja keluar bersama anak buahnya dalam rangka berburu atau suatu keperluan. Mereka terjebak pergi ke tempat yang jauh dan ditangkap oleh orang-orang penyembah dewa atau ruh. Kemudian mereka disembelih satu persatu untuk tumbal bagi tuhan mereka.

Ketika giliran sang raja mereka dapati jarinya putus, cacat, dan mereka mengatakan bahwa orang ini tidak pantas untuk diserahkan bagi dewa mereka. Akhirnya dibebaskanlah sang raja dan tatkala itu sang raja pun sadar bahwa yang dikatakan sang menteri betul. Jari yang putus merupakan kebahagiaan, anugrah, sehingga ia tidak jadi dibunuh.

Dia pulang dengan begitu semangat kemudian membebaskan sang menteri dan berkata : “Benar perkataanmu, yang terbaik adalah pilihan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.” Namun sang raja bertanya : “Kenapa kau (menteri) ketika dipenjara mengatakan bahwa yang terbaik adalah pilihan Allāh? Apa kebaikan engkau dipenjara?”

Kata sang menteri : “Seandainya saya tidak dipenjara maka saya pun akan berburu dengan engkau, ditangkap dan akan disembelih oleh mereka, oleh karenanya saya dipenjara adalah yang terbaik.”

Demikianlah, semoga kita senantiasa berhusnuzhan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Setelah kita berusaha dan berdo’a, yakinlah bahwa segala ketetapan Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah yang terbaik.

والله أعلم بالصواب

= KEPOMPONG DAN KUPU =

kepompong

Seorang anak sedang bermain dan menemukan kepompong kupu-kupu di sebuah dahan yang rendah. Diambilnya kepompong tersebut dan tampak ada lubang kecil di sana.

Anak itu tertegun mengamati lubang kecil tersebut karena terlihat ada seekor kupu-kupu yang sedang berjuang untuk keluar membebaskan diri melalui lubang tersebut. Lalu tampaklah kupu-kupu itu berhenti mencoba, dia kelihatan sudah berusaha semampunya dan nampaknya sia-sia untuk keluar melalui lubang kecil di ujung kempompongnya.
Melihat fenomena itu, si anak menjadi iba dan mengambil keputusan untuk membantu si kupu-kupu keluar dari kepompongnya. Dia pun mengambil gunting lalu mulai membuka badan kepompong dengan guntingnya agar kupu-kupu bisa keluar dan terbang dengan leluasa.
Begitu kepompong terbuka, kupu-kupu pun keluar dengan mudahnya. Akan tetapi, ia masih memiliki tubuh gembung dan kecil. Sayap-sayapnya nampak masih berkerut. Anak itu pun mulai mengamatinya lagi dengan seksama sambil berharap agar sayap kupu-kupu tersebut berkembang sehingga bisa membawa si kupu-kupu mungil terbang menuju bunga-bunga yang ada di taman.
Harapan tinggal harapan, apa yang ditunggu-tunggu si anak tidak kunjung tiba. Kupu-kupu tersebut terpaksa menghabiskan sisa hidupnya dengan merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap yang masih berkerut serta tidak berkembang dengan sempurna. Kupu-kupu itu akhirnya tidak mampu terbang seumur hidupnya.
Si anak rupanya tidak mengerti bahwa kupu-kupu perlu berjuang dengan usahanya sendiri untuk membebaskan diri dari kepompongnya. Lubang kecil yang perlu dilalui akan memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu masuk ke dalam sayap-sayapnya sehingga dia akan siap terbang dan memperoleh kebebasan.

dikutip dari buku “setengah isi setengah kosong”

HASTHABRATA

Oleh : R. Partawi

Dalam cerita pewayangan, Hasthabrata diajarkan oleh Sri Rama kepada Raden Barata ketika dia menyusul ke hutan untuk memohon kepada Sri Rama pulang ke negara Ayodya agar mau menjadi Raja. Namun karena terikat akan janji Ayahandanya yaitu Prabu Dasarata kepada Dewi Kekayi bahwa dia mau diperistri asal putranya kelak yang menggantikan tahta Ayodya, maka Sri Rama tidak mau menuruti bujukan Raden Barata. Sambil menangis Barata meratap-ratap bahwa Sri Rama-lah yang pantas`menduduki tahta Ayodya, bukan dirinya. Akhirnya jalan tengah-pun diambil oleh Sri Rama, Barata diperintahkan kembali ke keraton Ayodya dengan membawa tarumpah atau sandal Sri Rama sebagai tanda bahwa Barata dalam menjalankan pemerintahan di Ayodya sebagai Raja hanyalah sebagai badal atau wakil Sri Rama saja. Maka sebagai bekal Barata naik tahta diwejanglah ajaran Hasthabrata ini.

Yang kedua Hasthabrata ini diwejangkan oleh Sri Rama kepada Gunawan Wibisono ketika Negara Alengka sudah bisa dikalahkan dalam rangka Rama merebut kembali Dewi Shinta dari cengkeraman Rahwana. Sri Rama tidak berkenan menjadi Raja di Negara Alengkadiraja walau dia merupakan pemenang perang. Karena kebijaksanaan Sri Rama mengingat trah Alengkadiraja masih ada yang hidup yaitu Gunawan Wibisono yang merupakan adik dari Prabu Rahwana atau Dasamuka. Sebelum naik tahta di Alengkadiraja yang atas titah Sri Rama berganti menjadi Negara Singgelapura maka Gunawan Wibisono pun diwejang Wahyu Makutharama atau Hasthabrata oleh Sri Rama.

Wejangan Wahyu Makutharama ini juga pernah diterima oleh Arjuna di atas Gunung Kuthorunggu oleh Begawan Kesawasidhi atau Kresna.

Secara singkat bahwa isi dari Wahyu Makutharama atau Harsthabrata adalah :

 

  1. Adapun 8 (delapan) hal tersebut adalah meniru watak dari alam di sekitar kita.
  1. Pratiwi yang berarti bumi, bumi mempunyai watak kuat sentausa, segala sesuatu mampu diangkatnya dengan gagah perkasa, baik itu manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan semua berpijak di atas bumi, dan bumipun tidak pernah mengeluh atas beban itu.
  2. Surya yang berarti matahari, matahari mempunyai watak menerangi merata di seluruh jagat tanpa kecuali, sinar matahari bersifat memberikan kehidupan pada seluruh makhluk.
  3. Candra yang berarti rembulan, rembulan mempunyai watak memberikan penerangan di kala malam hari atau pada saat gelap, maka sifat rembulan memberikan penerangan kepada siapa saja yang sedang mengalami kegelapan.
  4. Samirana yang berari angin atau udara, udara mempunyai watak lembut dan dapat merata ke seluruh alam, baik itu yang keliatan maupun yang tidak terbukti di gua-gua yang dalam, berliku dan gelap sekalipun masih terdapat udara, bahkan di dalam air sekalipun juga terdapat udara.
  5. Jaladri yang berarti lautan atau samudera, samudera mempunyai watak yang luas sehingga mampu menampung apa saja, baik itu hal-hal yang baik maupun buruk segala sampah masuk ke laut, bahkan bangkai anjing sekalipun juga masuk ke laut,  namun laut tidak pernah mengeluarkan bau yang tidak sedap.
  6. Tirta yang berarti air, air mempunyai watakmemberikan kehidupan kepada makhluk hidup, baik manusia, tumbuh-tumbuhan maupun hewan semua membutuhkan air demi kelangsungan hidupnya.
  7. Kartika yang berarti bintang, bintang mempunyai watak memberikan keindahan pada alam semesta, kelip kelip bintang di malam memberikan rasa nyaman tenteram bagi siapa saja yang melihatnya..
  8. Dahana yang berarti api, api mempunyai watak mampu menghanguskan apa saja tanpa pandang bulu, maka sifat api ini diambil sebagai contoh untuk seorang raja harus mampu menghukum siapa saja yang salah, tidak bandang bulu apakah itu sanak atau keluarga, apabila bertindak salah harus dihukum demi tegaknya keadilan.

 

Demikian semoga dapat sebagai sarana introspeksi diri kita pribadi, sudah sejauh mana bisa menerapakan Hasthabrata dalam kehidupan kita sehari-hari.

 

 

sumber : https://www.facebook.com/notes/winantu-rahardjo/